Setiap pagi jam 3.25 am (pagi) aku selalu bangun pagi. Kuhidupkan kompor gas, dan ku panaskan sayur dan lauk untuk bersahur ria. Tak lupa pula, teh yang aku buat saat buka juga aku panasin. Waktu menunjukkan pukul 3.30 am. Emang hanya butuh waktu sekitar 5 menitan saya beresin keperluan untuk sahur tersebut. Dan setiap pukul 3.30 am, saya mendengar langkah nenek tua (ya, namanya nenek kan emang udah tua ya, kalau masih muda namanya gadis). Bila aku perhatikan dan dengarkan dengan seksama bisa dikatakan yang sedang berjalan adalah nenek yang sangat tua, karena jalannya udah lambat dan berat, tapi gerakan langkah kakinya teratur. antar langkah sepertinya punya jarak yang sama (kaki kanan dan kiri gantian, juga pakai waktu yang sama).
“Saya heran, nenek tua pagi-pagi buta naik tangga. Ngapain dia, ya?. Nggak ada kerjaan, kan mendingan tidur. Udah tua, masih juga keluyuran”, gumamku dalam hati.
Selang beberapa detik, “Orang rumah nomor 209 itu ngapain ya, setiap pagi saya lewat depan pintunya. lampunya selalu nyala dan selalu sedang masak. emang nggak ada kerjaan apa. kan mendingan tidur?” begitu kira2 nenek itu berfikir. Rumah yang aku tempatin memang nomor 209.
Dapur di rumah memang berada di dekat pintu masuk, bukan dibelakang seperti kebanyakan rumah yang ada di Indonesia. dan kebetulan lagi tempatu dekat dengan tangga, jadi kalau ada orang lewat dan aku pas di dapur saya bisa dengar langkahnya.
Begitulah, setiap bangun pagi dan nyiapin makanan di dapur buat sahur, nenek tua itu selalu datang/ lewat depan pintuku persis setiap pukul 3.30 am (saya tahu waktunya sama karena di dapur aku pasang jam dinding).
Suatu pagi di saat mau sahur di jam yang sama, pada saat nenek tua itu melintas, aku coba intip dia dari lubang kecil ditengah daun pintu (di pintu, memang ada lubang kecil untuk ngintip orang yang yang akan bertamu. Kita kenal atau tidak kita bisa pastikan dari lubang itu). Pas aku intip, terlambat akunya, settss…………..nenek itu udah turun tangga, dan saya hanya bisa melihat bagian badan dan kepalanya. “Ternyata, nenek beneran, manusia” kataku pelan.
Pagi berikutnya jam 3.30 persis suara datang, naik tangga. aku pastikan lagi. aku intip, ttip. “wah terlambat lagi, aku hanya melihat kelebatan tangannya”. Kan lubangnya emang kecil, jadi harus padaa saat yang tepat untuk bisa melihat dengan jelas. Untuk meyakinkan diri, aku katakan bahwa dia adalah nenek beneran. Mungkin saja nenek sebelah rumah yang baru pulang.
Disebelah tempatku memang ada nenek, tapi udah beberapa bulan lalu dia nggak pernah kelihatan. Mungkin aja dia datang pagi. Tapi kenapa setiap hari dan di jam yang sama.
Hari ke 29 sahur, aku lakukan hal seperti biasa, dan aku juga intip lagi. Namun, lagi-lagi, gagal menemukan bentuk utuh nenek itu, dari kaki sampai kepala.
Ada cerita/mitos ketika kecil dulu di kampung halaman, bahwa untuk memastikan orang yang jalan malam hari disaat yang tidak biasa, pastikan bahwa dia berjalan diatas tanah. Ya, begitulah mitos.
“Wah, gimana, nih, sekarang udah hari ke-29 puasa”. “Sahur tinggal sekali lagi, yaitu yang ketiga puluh. sementara belum bisa dipastikan siapa nenek itu, bener atau tidak dia itu manusia?” tanyaku.
Menjelang tidur untuk puasa ke 30, saya susun rencana. Pada saat nenek itu datang aku akan buka pintu. Biar jelas siapa nenek itu, nenek beneran atau nenek dalam sinetron picisan di Indonesia.
Benar, pagi jam 3.30 suara langkah kaki nenek itu datang. Dan,….set..aku tinggalkan sayur dikompor, dan aku buka pintu. Jarak antara kompor dan daun pintu sekitar 1,5 meter. aku melesat dan aku buka handle, dan pintu aku buka cepat. “Krek,,,,,,”suara daun pintu berdenyit. Aku langsung melompat keluar. “Masy-Allah, aku hanya bisa melihat punggung dan kepala dengan rambut putih nenek itu, karena dia keburu menghilang dibalik tembok. “Buset…….terlambat lagi”, kataku.
Wah, gawat nih, sahur ke-30 udah selesai. Besok paginya lebaran. aku nggak bisa membuktikan nenek itu, karena aku senidiri udah nggak sahur lagi, alias juga nggak bangun di jam sepagi itu. Bingung jadinya. “Tapi jangan kebingungan”, bisikku pelan.
Ya, aku berfikir positif aja. “Nenek itu adalah nenek beneran. Alias manusia nyata. Bukan setan gentayangan seperti dalam sinetron”, aku meyakinkan diri. “Kenapa begitu yakin”, tanyaku pada diri sendiri.
Ada beberapa alasan kuat yang aku punya untuk mengatakan itu manusia biasa: 1. Saat pengajian sering dibilang, setan saat bulan puasa dikunci/digembok. jadi nggak ada yang keluar. Saya sendiri bingung dengan perkataan para penceramah tentang hal ini, bagaimana menguncinya.
2. Di kompleks saya tinggal memang banyak nenek-nenek yang juga tinggal. Wajar saja kalu dia melakukan aktivitas yang rutin, seperti aku juga saat bulan puasa, harus bangun setiap pagi.
3. Cerita nenek/hantu gentayangan hanya ada dalam sinetron, itupun hanya sinetron di Indonesia.
4. Karena, aku tinggal sekarang ini bukan di Indonesia, alias di negeri Sakura, dalam rangka untuk studi lanjut. Aku pastikan bahwa tidak ada hantu. Karena tidak dikenal hantu di Jepang. Hantu dan setan hanya ada di Indonesia.
5. Kesimpulan: Nenek itu manusia beneran.
Kalau ada saran bagaimana memastikan dengan menangkap langsung (tangkap basah) nenek itu. Kasih tahu, ya!.
Demikian, besok sudah lebaran. Salam.